====================== TERIMA KASIH SUDAH MAU DATANG KE BLOG SAYA ========================

welcome say "enjoy the content"

Jam Berapa nih ?


Get your own Digital Clock

Follow Me On Twitter !!

Selasa, 10 Agustus 2010

Perbanyak Pahala di Bulan Ramadhan

Bulan Penuh Berkah

Bulan Ramadhan merupakan bulan yang penuh berkah dan kemuliaan. Alloh membuka semua pintu surga, menutup semua pintu neraka dan membelenggu para setan. Dengan begitu kaum muslimin diberi kesempatan seluas-luasnya untuk melaksanakan amal shalih terutama berpuasa. Oleh karena itu, Ramadhan identik dengan puasa. Puasa sendiri berarti menahan diri. Bukan hanya menahan diri dari makan dan minum tetapi juga dari hawa nafsu dan sekaligus menyeimbangkannya. Dan juga menahan diri dari perkataan dan perbuatan jelek.

Tujuan mulia lainnya adalah menggugah kepedulian terhadap kaum miskin, menyumbat jalan-jalan setan dalam tubuh karena jalan makan dan minum disempitkan, dan menstabilkan anggota tubuh agar tidak liar. Jelaslah bahwa puasa memberikan dampak yang sangat menakjubkan dalam penjagaan diri baik lahir maupun batin. Juga “mengimunisasi” tubuh dari zat-zat yang merusak dan mengeluarkannya dari dalam tubuh. Inilah faktor yang terpenting untuk meraih ketakwaan, seperti firman-Nya yang artinya,”Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa” (QS. Al Baqoroh : 183). Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda,“Puasa adalah perisai” (HR. Tirmidzi. Beliau berkata,“Hadits hasan shahih”.). Perisai diri dari perbuatan keji, dosa dan api neraka.

Keutamaan Bulan Ramadhan

Begitu banyak ayat-ayat Al Qu’an dan hadits nabi yang menekankan betapa banyak keutamaan yang dapat kita raih di bulan Ramadhan. Akan tetapi, masih banyak di antara kaum muslimin yang membacakan hadits-hadits palsu dan mungkar untuk menjelaskan tentang keutamaan bulan Ramadhan.

Di antara hadits palsu tersebut adalah,“Kalaulah seandainya kaum muslimin tahu apa yang ada di dalam Ramadhan, niscaya umatku akan berangan-angan agar satu tahun Ramadhan seluruhnya..” hingga akhir hadits ini. Juga hadits munkar yang sangat terkenal,“Berpuasalah, niscaya kalian akan sehat”.

Hadits dha’if lainnya yang sering disampaikan di mimbar-mimbar adalah,“Wahai manusia, sungguh bulan yang agung telah datang (menaungi) kalian. Bulan yang di dalamnya terdapat suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Alloh menjadikan puasa (pada bulan itu) sebagai satu kewajiban dan menjadikan sholat malamnya sebagai amalan sunnah. Barangsiapa yang mendekatkan diri pada bulan tersebut dengan (mengharapkan) suatu kebaikan, maka sama nilainya dengan menunaikan perkara wajib pada bulan yan lain. Inilah bulan yang awalnya rahmat, pertengahannya ampunan dan akhirnya adalah pembebasan dari api neraka …” hingga akhir hadits.

Dan juga hadits yang dha’if yang bunyinya,“Barangsiapa yang berbuka puasa satu hari pada bulan Ramadhan tanpa ada sebab, tidak pula karena sakit maka puasa satu tahun pun tidak akan dapat menggantikannya walaupun ia berpuasa pada satu tahun tersebut”.

Padahal begitu banyak hadits-hadits shahih yang menjelaskan bagaimana Nabi berpuasa, dan juga amalan-amalan lain yang menghasilkan pahala yang berlipat seperti sholat tarawih, membaca dan mempelajari Al Qur’an, i’tikaf dan zakat. Dan dalam kesempatan kali ini kami sengaja membahas secara khusus masalah sholat tarawih mulai dari bilangan rakaatnya dan hal-hal lain yang sering disepelekan oleh sebagian kaum muslimin agar kita dapat mengambil pelajaran darinya.

Tarawih sebagai Salah Satu Keutamaan Ramadhan

Salah satu keutamaan bulan Ramadhan yang tidak kita dapati pada bulan yang lain adalah adanya sholat malam atau tarawih dengan pahalanya yang begitu melimpah. Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda,“Barangsiapa sholat tarawih dengan dilandasi keimanan dan mengharap pahala dari Alloh maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu” (HR. Bukhori dan Muslim). Berikut ini kami uraikan hal-hal yang harus diperhatikan ketika melaksanakan sholat tarawih sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rosululloh :

  • Bilangan Rakaatnya :

Mungkin banyak orang yang belum mengetahui bahwa tata cara shalat yang dilaksanakan oleh Nabi itu bermacam-nacam. Yang biasa mereka ketahui adalah cara yang sudah umum karena sering dipraktekkan. Atau barangkali yang lebih ringan dan mudah. Namun karena semua itu shahih maka alangkah baiknya sekali-kali kita lakukan agar semua sunnah Nabi bisa kita amalkan

1. Tiga belas rakaat, diawali dengan 2 rakaat ringan.

Hal ini didasarkan pada hadits,“Dari Zaid bin Khlid Al-Juhani, dia berkata,’Saya akan mempraktekkan shalat malam Rosululloh. Beliau shalat dua rakaat ringan, lalu shalat dua rakaat sangat lama. Demikian pula dua rakaat berikutnya dan sesudahnya. Lalu shalat dua rakaat tetapi lebih pendek dari sebelumnya, lalu shalat dua rakaat yang lebih pendek dari sebelumnya. Kemudian shalat witir. Maka jumlahnya adalah tiga belas rakaat” (HR. Muslim). “Shalat dua rakaat ringan” tadi adalah shalat ba’diyah Isya’ atau shalat khusus sebagai pembuka shalat malam. Shalat pembuka shalat malam (iftitah) hanya berlaku jika baru bangun tidur lalu hendak shalat malam. Dan tidak berlaku untuk shalat tarawih di awal malam.

2. Tiga belas rakaat, delapan rakaat dilakukan dua­-dua, lalu witir 5 rakaat dengan duduk tasyahhud di rakaat terakhir.

Hal ini berdasarkan hadits,“Rosululloh biasa tidur malam. Apabila bangun beliau bersiwak, berwudhu kemudian melakukan sholat delapan rakaat, salam setiap dua rakaat. Setelah itu beliau berwitir lima rakaat, tasyahhud pada rakaat yang kelima. Jika muadzin menguman-dangkan adzan beliau shalat dua rakaat ringan” (HR. Muslim).

3. Sebelas rakaat, salam setiap 2 rakaat dan witir satu rakaat.

‘Aisyah rodhiyallohu ‘anha berkata,”Biasanya Nabi melakukan shalat setelah sholat isya’ yang oleh orang-orang dinamakan ‘atamah sampai menjelang fajar sebanyak sebelas rakaat. Beliau salam pada setiap dua rakaat dan witir satu rakaat. Apa­bila muadzin telah mengumandang­kan adzan shalat fajar, fajar telah tampak jelas dan muadzin pun telah hadir maka beliau shalat dua rakaat ringan kemudian berbaring pada sisi badan yang kanan sehingga muadzin datang mengumandangkan iqomat” (HR. Muslim).

4. Sebelas rakaat, empat rakaat-empat rakaat lalu witir 3 rakaat.

Abu Salamah bin Abdurrahman rodhiyallohu ‘anhu bertanya kepada ‘Aisyah rodhiyallohu ‘anha,“Bagaimana shalat Rosululloh di bulan Ramadhan?” ‘Aisyah menjawab,“Rosululloh tidak pernah sholat di bulan Ramadhan maupun di bulan selainnya lebih dari sebelas raka’at. Beliau shalat empat raka’at -kamu jangan menanyakan bagus dan panjangnya- setelah itu shalat empat raka’at -kamu jangan menanyakan bagus dan panjangnya- kemudian beliau shalat (witir) tiga raka’at (HR. Bukhori dan Muslim).

5. Sebelas rakaat, 8 rakaat de­ngan tasyahud di rakaat 8, tetapi tidak salam ­kemudian bangkit 1 rakaat dan salam, berarti 9 rakaat. Kemudian shalat 2 rakaat dan salam.

Sa ‘d bin Hisyam bin ‘Amir rodhiyallohu ‘anhu berkata,“Wahai Ummul Mukminin, kabarkanlah kepadaku tentang shalat witir Rosululloh?” ‘Aisyah men­jawab,”Kamilah yang mempersiap­kan siwak dan air wudhu beliau. Bila Alloh membangunkan beliau pada waktu yang dikehendaki di malam hari, beliau bersiwak dan berwudhu. Kemudian shalat sembilan rakaat, tidak duduk (tasyahhud) kecuali pada rakaat ke delapan. Beliau berdzikir, memuji Alloh, (membaca shalawat Nabi -dalam riwayat yang lain) dan berdoa. Kemudian beliau bangkit dan tidak salam, meneruskan rakaat ke sembilan. Kemudian duduk, berdzikir, memuji Alloh, (membaca shalawat Nabi -dalam riwayat yang lain), dan berdoa. Lalu salam dengan suatu salam yang terdengar oleh kami. Setelah itu beliau shalat dua rakaat sambil duduk. Jadi jumlahnya sebelas rakaat, wahai anakku. Ketika beliau telah tua dan gemuk, beliau berwitir tujuh rakaat, kemudian dua rakaat setelahnya dilakukan seperti biasa. Maka jumlahnya sembilan wahai anakku”. (HR. Muslim).

6. Sembilan rakaat, di antaranya 6 rakaat, duduk tasyahud pada rakaat ke-6 namun tidak salam. Kemudian bangkit satu rakaat dan salam, berarti 7 rakaat. Kemudian shalat 2 rakaat dengan duduk.

Dasarnya adalah hadits yang diriwayatkan dari ‘Aisyah rodhiyallohu ‘anha seperti yang telah disebutkan di atas (cara kelima).

Inilah tata cara shalat malam dan witir yang biasa dilakukan Rosululloh. Namun bisa juga melakukan cara yang lain, yaitu dengan mengurangi rakaat yang telah disebutkan tadi sekehendaknya. Sehingga boleh mencukupkan hanya dengan satu rakaat. Seperti disebutkan dalam hadits,“Barangsiapa mau, silakan witir dengan lima rakaat atau tiga rakaat atau satu rakaat”. (Shahih, HR. Thahawi, Daruquthni, AI-Hakim dan Baihaqi).

  • Disyariatkan Berjamaah

Berdasarkan sabda Rosululloh,“Sesungguhnya barangsiapa shalat tarawih bersama imam (berjamaah) sampai selesai, maka ditulis baginya sama dengan shalat semalam suntuk” (Shahih, HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i dan lainnya). Wanita juga dianjurkan untuk ikut berjamaah asal tidak melanggar batasan syar’i seperti tabarruj (bersolek), memakai minyak wangi, atau campur baur dengan laki-laki. Hal ini berdasarkan pada hadits di atas. Namun boleh juga bagi wanita untuk berjamaah tersendiri dengan diimami laki-Iaki. Hal ini berdasarkan hadits berikut,“Arfajah Ats-Tsaqofi menceritakan,’Ali bin Abi Thalib memerintahkan manusia untuk shalat tarawih dan menjadikan seorang imam bagi laki-laki dan imam bagi wanita. Dan aku adalah imam bagi wanita’” (HR. Baihaqi 2/494, Ibnu Nashr dalam Qiyam Ramadlan hal. 93).

Namun dibolehkan juga jika diimami oleh wanita. Berdasarkan riwayat dari ‘Aisyah, Bahwa ‘Aisyah mengimami para wanita dan beliau berdiri di tengah-­ tengah (shaf) mereka di shalat wajib” (Shahih lighairihi, HR. Daruquthni, Baihaqi, Ibnu Hazm. Lihat Jami’ Ahkam Nisa’, Syaikh Musthafa Al-Adawi 1/345).

  • Qunut Witir

Disunnahkan untuk membaca doa qunut sebelum ruku’ sebagaimana yang telah diajarkan oleh Rosululloh. Namun boleh juga dilakukan setelah ruku’, dengan tambahan doa laknat kepada orang-orang kafir, shalawat nabi, dan mendoakan untuk orang-orang mukmin mulai pertengahan Ramadhan. Hal ini berdasarkan amalan para imam shalat di masa Umar bin Khathab rodhiyallohu ‘anhu.

Imam Ibnu Qudamah rohimahulloh berkata,“Apabila imam melakukan qunut maka makmum ikut mengaminkan. Yang saya ketahui, masalah ini tidak diperselisihkan. Hal ini dikatakan oleh Ishak bin Rahuyah”. Imam Ahmad rohimahulloh ditanya,”Jika saya tidak mendengar doa imam, bolehkan saya berdoa sendiri?” Beliau menjawab,“Boleh”. Ketika qunut, imam dan makmum mengangkat kedua tangannya. Al-Atsram rohimahulloh berkata,”Ketika qunut, Abu Abdillah (Imam Ahmad) mengangkat kedua tangannya sejajar dada. Beliau berdalil dengan perbuatan Ibnu Mas’ud. Hal ini juga diriwayatkan dari Ibnu Abbas dan Umar bin Khathab”. (AI-Mughni 2/584).

Syaikh Ibnu Utsaimin rohimahulloh berkata,“Sesungguhnya qunut di shalat witir adalah sunnah. Tetapi apabila dilakukan secara kontinyu, tidak disunnahkan. Jika dilakukan kadang­kadang maka itu baik, karena qunut ini diajarkan oleh beliau kepada cucunya, yaitu AI-Hasan bin Ali. Tetapi yang saya ketahui, beliau tidak pernah melakukan qunut pada shalat witir”. (Fatawa, 1/392-394).

  • Tidak Boleh Tergesa-Gesa

Masih banyak kita saksikan orang-orang yang menunaikan shalat tarawih dengan cepat bagaikan “kereta ekspres”. Tidak jarang shalat tarawih 23 rakaat selesai terlebih dahulu daripada yang 11 rakaat. Bahkan hanya diselesaikan dalam waktu kurang dari setengah jam!! Ini jelas menyimpang dari tuntuan Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam. Padahal Rosululloh bersabda,“Tidak akan sah sholat seseorang hingga menegakkan (meluruskan) punggungnya ketika ruku’ dan sujud” (Shahih, HR. Abu Dawud, Nasa’i, Tirmidzi dan Ibnu Majah). Sabdanya pula,“Sesungguhnya pencuri yang paling buruk adalah orang yang mencuri shalatnya”. Para sahabat bertanya,”Wahai Rosululloh, bagaimana dia mencuri shalatnya?” Beliau menjawab,”Dia tidak menyempurnakan ruku’ dan sujudnya” (Shahih, HR. AI-Hakim 1/229, dia shahihkan dan disetujui oleh Adz­-Dzahabi).

Akhirnya, kita memohon kepada Alloh agar dimasukkan ke dalam golongan orang-orang yang senantiasa menegakkan sunnah-sunnah Rosul-Nya hingga hembusan nafas terakhir. [Abu Syifaa' Fauzan Al ‘Ashry]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

JUAL PLATINUM

Dijual : Satu batang Platinum jm Assayers & Refiners AZL 18 London seberat 32 ounces PF.57182.Ada yang berminat hubungi ane ya gan, harga bisa nego.

Contac via e-mail or YM: armhan_shy@yahoo.com